Al Ummu Madrosatul Uula (Sebuah Renungan Akhir Tahun)


“ Aku ingin mendidik diriku sendiri karena aku ingin mendidikmu jauh sebelum engkau dilahirkan” –(Risci Rusyanawati)

Saya mendapati tulisan tersebut di akun Instagram milik Teh Ghaitsa atau akrab disapa dengan nama Teh Icha. Teh Icha adalah salah satu puteri dari seorang da’i kondang, Aa Gym. Baru-baru ini sempat hangat berita pernikahan Teh Icha dikalangan aktivis dakwah maupun jamaah masjid Daarut Tauhid Bandung, pasalnya Teh Icha ini adalah seorang hafidzah (sebutan untuk penghapal Al-Quran) dan pasangannya adalah seorang hafidz, keduanya menjadi pasangan penghapal Al-Quran (semoga Allah memberkati keduanya). Tulisan tersebut merupakan  caption dari photo Teh Icha yang sedang berpose bersama dengan seorang anak laki-laki. Sehingga saya berkesimpulan bahwa kata ‘mendidikmu’ dalam tulisan tersebut sebenarnya ditujukan untuk calon anak yang nantinya akan dilahirkan oleh seorang wanita.

Setelah lulus kuliah dan mengantongi ijazah, saya sempat didera kegalauan. Saya merasa akan banyak sekali tantangan yang harus dihadapi setelah selesai menempuh pendidikan sarjana ini. Pertanyaan yang kerap kali muncul adalah. Apakah saya akan bekerja, lanjut kuliah ataukah menunggu datangnya Sang pangeran yang menjemput untuk menjadikan saya sepenuhnya ibu rumah tangga atau full-time mother ? Apa yang harus saya jalani dikemudian hari ? Alhamdulillah kegalauan ini tidak berlangsung lama, saya akhirnya memutuskan untuk bekerja karena ada beberapa hal yang ingin saya wujudkan untuk membahagiakan keluarga. Namun, setelah membaca tulisan tersebut saya tersadarkan bahwa saya, seorang wanita, suatu saat nanti secara fitrahnya pasti akan menjadi seorang Ibu. Sebagai seorang Ibu, ada sebuah tanggung jawab besar yang Allah berikan kepada wanita, yaitu fungsi dan perannya sebagai seorang pendidik. Pendidik bagi anak-anak yang akan lahir dari Rahimnya. Al Ummu Madrosatul Uula. Seorang Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seorang ibu memiliki tanggung jawab untuk mengantarkan anak-anaknya ke syurga. Sehingga pendidikan yang harus ditanamkan kepada seorang anak pertama kali bukanlah ilmu-ilmu eksak atau umum, melainkan pendidikan Al-Quran sehingga sang anak dapat mengenal Tuhannya sedari dini dan menjadi manusia yang bertaqwa. Bahkan, seorang Ibu perlu mengisi milyaran sel otak anak dengan bacaan Al-Quran ketika anak masih berada dalam kandungan.

Tempo lalu saya mendapatkan sebuah pesan broadcast berisi Nasihat Ustadzah Aan Rohana, Mag, tentang rahasia kesuksesan wanita dalam mendidik anak dan membina keluarga. Beliau menyampaikan bahwa seorang anak yang besar lahir dari Ibu yang besar, sehingga menjadi kewajiban bagi seorang calon Ibu untuk menempa dirinya dan bersungguh-sungguh dalam mendekatkan diri kepada Allah. Tiga hal utama yang menjadi bekal seorang Ibu dalam mendidik anak adalah kepandaian dalam menjaga keikhlasan dan kesabaran, memiliki wawasan yang luas, dan menjadikan dirinya sebagai role model atau panutan yang baik. Selain itu, seorang Ibu harus memiliki kondisi ruhiah yang baik dan stabil sehingga kedekatannya dengan Allah SWT menjadi amunisi untuk menjaga amarah dan emosi. Saat kita dekat dengan Allah, Allah akan memberikan kita kemampuan dan kekuatan sehingga perkataan kita sampai ke hati anak, tanpa perlu banyak bicara dan amarah.

images

Selama ini mungkin kita tidak sadar bahwa kita masih jauh dari kata ‘terdidik’. Sedikit-sedikit  mengeluh dan mengumpat. Terjebak macet, kepanasan, mengantri, sejatinya merupakan sarana untuk belajar tentang arti kesabaran yang sesungguhnya. Karena ujian-ujian saat menjadi Ibu akan lebih berat, mungkin kita akan dihadapkan dengan karakter anak yang beragam dan super emosional, menghadapi anak yang tantrum, berjaga ditengah malam untuk mendengar tangisan,  mengurus seluruh keperluan anak dan lain sebagainya. Selain itu kita perlu mendidik diri kita  untuk lebih berdisiplin dengan waktu. Jangan sampai waktu saat ini digunakan untuk hal-hal yang sia-sia, menonton sinteron, movie marathon hingga pagi, bergosip dan menggunjing atau hal-hal lain yang kurang bermanfaat.

Hari ini, Rabu 14 Oktober 2015  bertepatan dengan pergantian tahun baru islam  1 Muharram 1437 Hijriyah, saya menulis ini sebagai refleksi diri. Suatu saat nanti saya akan menjadi pendidik yang bertanggung jawab terhadap amanah Allah yang sangat besar yaitu titipan anak yang dipertanggungjawabkan bukan hanya kesuksesan dunianya saja namun juga akhiratnya. Ada yang mengatakan bahwa mendidik anak adalah sebuah investasi kita di akhirat karena salah satu amalan yang tidak terputus bahkan ketika kita sudah meniggalkan dunia adalah doa dari anak yang sholeh dan sholehah. Saat ini saya masih diberi kesempatan untuk belajar, belajar dan belajar. Bukan hanya belajar ilmu pengetahuan, namun juga ilmu kehidupan dan kearifan. Saya masih diberi waktu untuk menempa diri sehingga siap menjadi panutan anak-anak saya kelak. Pendidikan anak itu sejatinya dimulai dari diri kita sendiri dan persiapan itu perlu dilakukan jauh sebelum anak-anak kita dilahirkan. Saya tidak tahu kemana kaki ini selanjutnya akan melangkah, apakah saya nanti akan seterusnya menjadi wanita karir, menjadi civitas akademisi, menjadi business woman, ataukah menjadi full time mother, yang  jelas dibalik impian-impian tersebut ada satu visi mulia yang wajib dipegang dan disadari oleh saya dan seluruh wanita yaitu ‘al-ummu madrosatul uula’.  Jika ingin memiliki anak yang baik akhlaknya, maka perbaiki akhlak dari diri sendiri terlebih dahulu, jika ingin memiliki anak penghapal Qur’an, maka mulailah berdekatan dengan Al-Quran dari diri sendiri terlebih dahulu, jika ingin memiliki anak yang  kaya akan ilmu pengetahuan, maka perluas wawasan dari diri sendiri terlebih dahulu. Seorang Ibu, bertanggungjawab mendidik anak dengan pendidikan iman. Terakhir, sesi curcol ini ditutup dengan sebuah kutipan nasihat “ Kecantikan wanita ada pada kelembutannya, kekuatan wanita ada dalam keikhlasannya, kekayaan wanita ada pada kemampuannya memahami ayat-ayat-Nya”-Teh Ninih.

Jakarta, 14 Oktober 2015

Photo credit : http://www.sayapsakinah.com

Pamali, Sebuah Seni Mendidik yang Harus Ditinggalkan

Pagi hari menjelang siang, sekitar jam sepuluh, saya menghadiri kelas GCG (Good Coorporate Government) yaitu mata kuliah yang membahas tentang tata kelola perusahaan yang baik. Saya sangat antusias mendengarkan, kali ini membahas tentang etika  dalam berbisnis. Sang dosen melakukan intro dengan memancing beberapa pertanyaan umum lalu mengarahkan kepada pembahasan inti. Mengikuti pola pembahasan  deduktif.

Saat proses transfer ilmu berlangsung, saya tergelitik ketika penjelasan dosen melebar ke berbagai macam hal dalam kehidupan, hingga akhirnya membahas tentang  pamali. Pamali (kualat)  adalah sebuah istilah yang dipakai oleh orang tua zaman dahulu untuk melarang seseorang agar tidak berbuat suatu hal yang kurang baik atau kurang pantas. Pamali ini dipercaya mengandung sebuah “ efek negatif ” jika dilanggar, dan sifatnya turun temurun, yaitu disebarkan secara oral dari generasi ke generasi. Misalnya yang pertama mencetuskan adalah buyut, lalu buyut menyampaikan kepada nenek, lalu nenek menyampaikan lagi kepada  ibu, ibu akhirnya menyampaikan pesan tersebut kepada kita, begitu seterusnya. Dosen tersebut memberikan beberapa contoh kalimat pamali yang sering di ucapkan oleh para orang tua (kakek, nenek, buyut, atau apapun yang lebih tua) .

“Neng, jangan potong kuku malem-malem, nanti rejekinya di patok ayam loh”

“Neng, nyapunya yang bersih, nanti suaminya berewokan loh”

“ Neng, jangan duduk depan pintu.. entar nontot jodo’ (susah dapat jodoh) ! ”

Jika saat ini kita pahami kembali beberapa kalimat tersebut, akan terasa sangat menggelikan, lantas kita berpikir, apa hubungannya potong  kuku malam-malam dengan rezeki yang konon katanya bisa dipatok ayam?  lalu apa hubungannya kebersihan dalam menyapu dengan calon suami yang berewokan? Dan lagi, duduk didepan pintu dengan kesulitan mendapat jodoh, semua kalimat-kalimat tersebut terdengar tidak logis. Tapi mungkin inilah seni  mendidik orang tua jaman dahulu, dengan  petuah-petuah yang sifatnya melarang lalu dikaitkan dengan kualat yang akan diterima jika petuah tidak dilaksanakan. Sebenarnya jika kita kaji kalimat-kalimat pamali tersebut, ada sebuah nilai kebaikan dan kasih sayang yang ingin disampaikan oleh orang tua. Contohnya saat kita tidak diperbolehkan memotong kuku malam-malam, bukan berarti orang tua merasa ketakutan dengan rezeki yang nanti akan kita dapatkan lalu  dipatok ayam, sebenarnya yang ingin disampaikan adalah, jika kita memotong kuku malam-malam, maka  penerangan akan minim, takut tangan kita cedera jika salah memotong. Lalu, agar kita menjadi anak yang memiliki sopan santun maka kita tidak diperbolehkan duduk di depan pintu, karena akan menghalangi jalan orang yang akan masuk melalui pintu, lalu saat kita menyapu tidak bersih, maka orang tua takut hal itu akan menjadi kebiasaan buruk kita dikemudian hari.

Ketika kita kembali ke masa lampau, nilai yang saat itu di anut oleh masyarakat adalah sangat menghormati apa yang dikatakan oleh orang yang lebih tua, sehingga muncul ketakutan tersendiri jika sudah terlontar kata pamali dari orang yang lebih tua. Namun perlu disadari jika saat ini petuah tersebut diluncurkan sebagai bentuk mendidik anak, maka anak-anak jaman sekarang sudah pasti berbeda dengan anak-anak jaman dahulu, anak jaman sekarang lebih pintar dan lebih kritis, bisa saja pernyataan kita disanggah, lalu sang anak berlalu begitu saja tanpa mau menurut, sudah saatnya gaya memberi nasihat dirubah dengan cara yang lebih edukatif, jadi, bukan kualat yang disampaikan, namun sebutkanlah alasan mengapa kita, sebagai orang tua melarang suatu hal lalu meluruskan bahwasanya kita memberi nasihat karena bentuk rasa kasih sayang kita terhadap anak, dengan cara itu mudah-mudahan sang anak jadi lebih mudah untuk terdewasakan juga pebentukan terhadap pola pikir anak akan lebih terdidik dan tercerahkan.

Bongkar-bongkar berkas nemu tulisan ini, yang dibuat tiga tahun yang lalu, 12 April 2012

Oseng Tempe Cabelita

Postingan kali ini berhubungan dengan masalah dapur dan isi perut, saya akan membagikan resep masakan sederhana original recipe taken from my mother yang berjudul Oseng Tempe Cabelita. Oke mari kita mulai sesi  berbagi resepnya.

Bumbu                                                           Bahan

Gula Merah secukupnya                                 1 ikat kacang Panjang

Garam secukupnya                                          ½ potong tempe

Ketumbar secukupnya                                     Cabe Gendot 2 buah

½ jari lengkuas

Dua siung bawang merah

Dua suing bawang putih

½ bungkus santan

1 sdt terasi

1 buah daun Salam

5 sdt kecap

2 sdt saus tiram

¼ bagian tomat

Cara Pembuatan  

  1. Potong tempe kecil-kecil sehingga berbentuk dadu lalu goreng hingga keemasan. Potong pula kacang panjang menjadi kecil-kecil serta iris tipis cabe gendot.
  2. Haluskan bawang merah, bawang putih, ketumbar, terasi, garam dan tomat, lalu diakhir masukkan lengkuas serta daun salam.
  3. Tumis bumbu yang telah dihaluskan hingga tercium aroma sedap.
  4. Masukkan potongan tempe, kacang panjang, dan cabe hijau, tambahkan sedikit air lalu oseng hingga bumbu meresap.
  5. Masukkan santan.
  6. Masukkan kecap dan saus tiram, serta gula merah ke dalam masakan.
  7. Diamkan hingga bumbu meresap dan tekstur kacang panjang menjadi agak layu (jangan terlalu layu)
  8. Jika sudah matang, angkat dan sajikan. Akan lebih bagus jika disajikan dengan taburan bawang goreng.

Sekian, selamat mencoba, oseng tempe cabelita  😀

Slide1

Learning English, Daddy’s Present and Speech of Islam

To my mind, english is extremely something important to learn in this era of globalization. The era when there is no barrier to enter the world and the competition become so tight. According to that urgency, i have to put my extra-effort for mastering English well. My teacher from Senior High School said that learning english should be in entertain and amusing way so it will make us easier to practising and understanding.

We should alter our way of learning from book-based into digital interactive ways such as from music, films, audio sources or something else. Based on that suggestion, i gathered so many musics and films that produced by western countries (countries that using english as their mother language, mostly from America and UK). I used to listen Avril Lavigne, MCR, Eminem and another rock genre musics. Moreover, i always figured out what the music lyrics telling me about. I was so keen on such musics and i really enjoy to listen it! Then, the movies i used to watch are science fiction, romance, magic, drama, horror, action and so on. The problem was, i have no strong filter and i absorb all the content (the cultures, the way of speaking, the values, the habits and the mindsets) that contained by those musics and films alltogether. After a years, i realize that i have a bad attitude and morals influenced by those musics and films.

Alhamdulillah, Allah SWT Has guide me to the right path and give me a lovable Dady. One day, i asked my Dady how could I boost my english without those ‘entertain’ stuffs? So, Dady came to me with this DVD on his hand :

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

“ This one for you” Said Dady.

“Hah?” i was confused, staring to Dady with silly face.

“ Just open it, the DVD contain some useful and entertaining stuffs for your english learning process, i was downloading” Dady added.

Furthermore, the DVD was driven on my Laptop. O Allah,  Dady give me such a best present. He downloading me the videos of Speech in English by Ustad Nouman Ali Khan. Not only that, he also give me a lot of inspirational movies about islam dan its beauty. Really interesting, those movies broaden my knowledge and insight about Islam, also getting me closer to Allah SWT till I have a peaceful and lovable mind. Those are better than the ‘entertain’ sttuffs before. This is the best way to learn english. Something amusing and useful.

ceramah

In the last of this story, I would like to give you (readers) some opinion about ‘how to learning English safely’

  1. Don’t fully trust the suggestion about=> Western Musics and Films are easy and amusing way to mastering english. Implicitly, some of them are destruct our way of thinking. Peoples who made the musics/movies doesn’t care  the impact of violence or sexual scene that showing up in the movies and how gigantic the effect of pessimistic music lyrics to ruin someone’s life, they just care about rating and revenue ! They just care about how many dollars they get, whatever the content.
  2. Be Protective and Selective. Listen, Read and Watch only the useful program that could give you inspirational knowledge. Choose the best program while watching English videos on Youtube or any others media.
  3. Throw away your pessimistic and gloomy songs, turn it into the positive and constructive songs such as Maher Zein etc. Also turn your bad movies into knowledgeable movies such as  Harun Yahya, Someone Speechs, etc. You will get two advantages from those movies, English skill and knowledge.
  4. Learn English from translating the quotes, it is good, both the contex or the content. Quotes from wise man will gain your positive point of view.

That’s all from me,

Also in this Dady’s Day I would like to thanks my Dady for his love and guidance. You are my super star.

IMG_20140525_093050

Happy Dady’s Day ^.^

Telecommunication Area, 12 November 2014

Korupsi, Budaya Instan dan Bilangan Fibbonaci

“Kota yang maju bukan dilihat dari kondisi saat orang miskin dapat membeli mobil, melainkan ketika orang kayanya menggunakan transportasi publik” – Enrique Penalosa ( Walikota Bogota,Colombia , 1998-2001)

Korupsi sepertinya sudah menjadi santapan sehari-hari bangsa Indonesia, berulang dan selalu  terasa lezat. Buktinya media tidak pernah kehabisan artikel yang membahas tentang kasus korupsi. Hal ini diperkuat dengan data pada tahun 2012, bahwa Corruption Perspective Index (CPI) Indonesia masih  sebesar 3,2 dan berada di ranking 118 dari 182 negara. Korupsi ini bak penyakit epidemi di Indonesia, begitu cepat menular dan tidak pandang bulu. Bila korupsi yang menjangkit para penguasa sudah dianggap sebagai hal yang mainstream, maka jangan  terkejut jika ternyata korupsi ini bisa menjangkit siapa saja dikalangan masyarakat biasa. Sangat  mengkhawatirkan jika penyakit ini menginfeksi para generasi  muda yang diharapkan menjadi tombak penerus kemajuan bangsa Indonesia. Jika penyakit ini tidak segera ditangani secara serius, maka akan terbentuk negara Indonesia yang benar-benar berpenyakit dan  lumpuh. Indonesia  tidak akan bisa maju melesat  dan bersinar bersama negara-negara lain yang sudah bercahaya.  Mari kita merenung sejenak dan  berpikir, apa sebenarnya skenario yang terjadi dibalik penyakit epidemi bernama korupsi ini?

Sebagai sebuah realita sederhana, saya pernah mengalami  masa-masa menjadi murid sekolah menegah pertama. Ketika itu saya sempat dididik oleh seorang guru pendidikan kewarganegaraan yang menanamkan ajarannnya lewat  propaganda berapi-api tentang negeri yang kami tempati, Indonesia, yang dipenuhi oleh penguasa  korup. Saat itu kami sebagai murid, tidak memiliki filter apapun untuk menyerap informasi yang diberikan oleh guru kami. Kami tersulut emosi dan merasa kesal terhadap para penguasa, sehingga kami memiliki stereotipe negatif terhadap para penguasa. Namun, ada suatu hal yang terlupakan oleh pendidik kami, kami memang diajarkan tentang  idealisme dan  korupsi, tapi kami tidak diajarkan untuk memahami hakikat idealisme yang sesungguhnya.

Ketika  tiba saatnya menghadapi ujian nasional, kami dihadapkan dengan kondisi yang dilematis. Pemilik wewenang  di sekolah kami  sengaja memberikan bahkan mewajibkan contekan jawaban ujian nasional kepada siswa-siswi  saat ujian nasional berlangsung. Dengan alasan agar dapat mengharumkan nama sekolah dengan nilai ujian nasional yang baik dan merata. Saat itu saya bertanya, perlukah saya  ikut mendukung ? perlukah mengharumkan nama sekolah dengan berlaku tidak jujur? Apakah Ujian Nasional itu hanyalah sebuah pembodohan masa? Lalu bagaimana dengan konsep idealisme yang dimaksud  oleh guru pendidikan kewarganegaraan? Jika memang seperti itu mengapa kita harus menganggap korupsi sebagai sebuah dosa?  Pertanyaan tersebut berkecamuk sangat lama hingga saya tumbuh dewasa dan melihat berbagai realita serupa. Banyak perilaku curang kecil-kecilan yang tersamarkan oleh sebuah pembenaran, pembenaran yang dilakukan oleh suatu pihak  dan akhirnya dibenarkan secara berjamaah karena setiap komponen ingin mendapatkan sesuatu secara instan, tidak ingin dibuat repot dan susah. Ingin harum nama tanpa ada kerja keras. Ingin berprestasi tanpa ada pengorbanan. Maka saya mengambil kesimpulan bahwa korupsi itu terbentuk oleh budaya instan yang dianut dan didukung oleh manusia secara berjamaah. Korupsi adalah penyakit epidemi bagi seluruh kalangan, bukan hanya penguasa.

Teori yang tidak sejalan dengan realita adalah sebuah kesenjangan, teori yang tidak sejalan dengan realita adalah sebuah kemunafikan, tapi saat ini setiap orang seakan tutup mata dan tidak bisa merasakan adanya kesenjangan karena mereka sudah menganggap itu sebagai hal biasa! Lalu apa yang bisa kita lakukan? Solusi konkret yang dapat kita lakukan adalah mengubah budaya instan dengan menguraikannya sebagai kebiasaan buruk dan menggantikannya dengan kebiasaan baik menuju sebuah keadaan ideal dengan budaya positif penuh integritas.

1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, 21, 34, 55, 89

Bilangan diatas disebut dengan deret fibbonaci, dibentuk dengan menambahkan dua angka sebelumnya  menjadi sebuah angka baru. Sebuah buku karangan Felix Y. Siaw berjudul “ How to Master Your Habbit” menjelaskan bilangan fibbonaci dan kaitannya dengan kebiasaan manusia. Dalam buku itu, Felix berargumen bahwa sebuah kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus akan membuahkan hasil dengan grafik yang terus meningkat. Hal ini dikaitkan dengan peningkatan kemampuan seseorang. Sebagai contoh, kita bisa meningkatkan kemampuan membaca cepat jika sudah terbiasa membaca. Awalnya membaca merupakan hal yang sulit untuk dilakukan. Pada awal membiasakan diri untuk membaca, kecepatan membaca kita mungkin hanya sebesar 1%, untuk kedua dan ketiga kalinya kecepatan membaca kita bisa meningkat sebesar 5% dan jika konsisten mengaasahnya secara rutin, bisa jadi kemampuan kita membaca cepat akan menjadi 100%, kita akan ketagihan dan selalu ketagihan untuk membaca dan memiliki kemampuan untuk menuntaskan bacaan dengan cepat. Tentu saja perlu waktu yang tidak sebentar dan pengorbanan yang luar biasa untuk mencapai konsistensi, tapi jika hal ini berhasil dilakukan maka idealisme itu dapat tercapai. Hal ini dapat diterapkan pula untuk mengangani masalah korupsi, masyarakat Indonesia harus terlebih dahulu disadarkan akan dampak buruk korupsi dan potensi apa saja yang dapat mengakibatkan kita terlibat dalam kasus korupsi. Setelah itu potensi tadi kita uraikan sebagai kebiasaan buruk yang harus dirubah dan menggantikannya dengan kebiasaan baik. Awalnya mungkin akan sulit membiasakan suatu hal yang baru, akan tetapi jika sudah konsisten melakukannya, kebiasaan tersebut akan melekat dalam darah daging . Saya optimis Indonesia dapat bersinar tanpa korupsi jika karakter manusia dibiasakan untuk melakukan kebiasaan yang baik dan bertanggung jawab. Mari kita cegah potensi korupsi sedari dini dengan membiasakan 3M : Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal kecil dan Mulai dari sekarang.

Sebuah tulisan dengan menggunakan data yang sama diolah untuk Propaganda Anti Korupsi  tahun 2013